DIY: Liora’s Health Journal
Journal is the way I cherish Liora’s moment of growth.
Terinspirasi dari saya yang banyak maunya. Saya maunya, semua tersimpan rapi termasuk pertumbuhan, kesehatan, dan vaccine history Liora–khususnya di satu catatan/buku yang tidak mudah tercecer. Saya juga maunya buku itu seperti yang saya mau, yaitu agak lucu-lucu dikit gitu (lucu versi saya). Lalu saya maunya saya sendiri yang buat! Hahaha. Kenapa? Soalnya, KMS (Kartu Menuju Sehat) dari rumah sakit tuh hanya sebuah lembaran yang ditekuk jadi empat, macam leaflet. Lalu, baru beberapa kali vaksin aja space catatan saat visit ke dokter sudah penuh. Belum lagi kalau ditempel label vaksin yang memakan tempat. Nggak seru banget KMS-nya. Kalau beli, emang ada yang jual seperti yang saya mau?
KMS Liora sudah penuh dan diberi yang baru. Ih males banget kan punya KMS dua-duan segala mungkin bakal tiga, empat, lima. Ntar tercecer lalu hembuh kemana. Lalu catatan kesehatan/vaksin Liora bakalan menghilang, lalu lupa udah sampai mana vaksin yang Liora terima. Padahal vaksin nggak cuma saat bayi doang. Nanti setelah umur berapa gitu bakalan vaksin lagi. Selain itu, niat saya tu nanti ketika Liora besar bakal saya kasih lihat. Biar dia seneng gitu (Iya kalo seneng haha). Paling tidak, saya yang seneng deh wkwk.
Apa sih Liora’s Health Journal ini? Jurnal yang berisi tentang kesehatan Liora. Meski format isinya lebih kepada vaccine journey, tapi sebenarnya bisa diisi catatan-catatan lain seperti apa yang diresepkan dokter kalau ada keluhan atau milestone Liora seperti pertama kali tengkurap, merangkak, dll. Makanya pakai kata health daripada vaccine supaya lebih besar cakupannya.
Rempong ya buat dan cetak jurnal sendiri? Big NO. Soalnya hanya bermodal laptop, internet, printer, kertas HVS, kertas foto, Rp1.000,oo, dan NIAT, saya bisa membuat Health Journal ini, lho. Membuat dengan Ms. Publisher lalu gambar-gambar diambil dari Google. Kalau desain gambarnya sendiri saya belum bisa. Jadi, thanks to Google saya jadi bisa memperunyu jurnal ini. Untuk halaman sampul saya print dengan kertas foto (kebetulan punya, kalau enggak ya pakai kertas biasa wkwk). Rp1.000,oo pun digunakan untuk jasa staples tengah ke fotokopi terdekat, setelah distaples, setiap sisi buku dirapikan dengan dipotong supaya simetris.
Apa saja kontennya?








Udah gitu aja sih. Proses membuatnya, tiga hari haha lama ya? Ya iyalah! Punya bayi yang kalo ngilang bentar dari pandangannya aja dicari. Buatnya pun disela si bayi tidur. Kalau pas tidur siang: perasaan baru content brainstroming, eh si bayi udah bangun aja. Pas malem: lagi seru-serunya ngerjain, eh si bayi nangis minta nenen karena haus. Atau, ikutan tidur sama si bayi. Ya begitulah kenapa lama juga jadinya nih buku. Harus curi-curi waktu.

Seru juga sih buat sendiri. Ada kepuasan tersendiri aja. Jadi nagih buat sesuatu yang bisa dibuat sendiri. Kalau kalian gimana? #timapaadanya atau #timbanyakmaunya seperti saya?



Komentar
Posting Komentar